PENDAHULUAN
Tugas pengawas
satuan pendidikan tidak hanya melakukan supervisi manajerial kepala sekolah,
namun juga membina guru melalui supervisi aka-demik. Dalam pembinaan guru tentu
harus mengacu pada kompetensi guru, terutama kompetensi profesional berkaitan
dengan proses pembelajaran. Se-jalan dengan perkembangan teknologi serta
teori-teori pembelajaran, maka guru pun dituntut mampu menguasai dan memilih pendekatan,
strategi dan metode pembelajaran yang tepat, sehingga menjadikan siswa aktif,
kreatif, dan belajar dalam suasana senang serta efektif.
Menghadapi tugas
tersebut pengawas tentu harus menguasai strategi/ metode/ teknik pembelajaran/bimbingan yang up
to date. Bila pengetahuan pengawas
sudah ketinggalan, apa lagi hanya mengandalkan pengalaman tan-pa didukung
teori-teori, maka pengawas tidak akan mandapatkan respek dari para guru yang
dibinanya. Paling tidak, untuk jenjang pendidikan dasar pe-ngawas harus memahami
garis besar strategi pembelajaran mata pelajaran utama antara lain: matematika,
IPA, IPS, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
Materi pelatihan
ini dimaksudkan memberikan wawasan dan pengalaman langsung melalui
praktek-praktek simulasi bagi pengawas dalam melaksanakan tugas supervisi
akademik di tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK, SLB.
Dimensi kompetensi yang diharapkan dibentuk pada akhir
Diklat ini adalah dimensi Kompetensi Supervisi
Akademik.
Setelah mengikuti pelatihan ini pengawas
diharapkan dapat membim-bing guru dalam memahami, memilih dan menggunakan
strategi/metode/tek-nik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan potensi
siswa agar kritis, kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah melalui mata-mata
pelajaran yang relevan.
Indikator pencapaian hasil diklat ini adalah
apabila pengawas dapat:
1.
Memahami
Hakikat Pendekatan Pembelajaran
2.
Mengidentifikasi
Berbagai Jenis Pembelajaran PAIKEM
3.
Membimbing
guru dalam menggunakan Berbagai Metode Pembelajaran Berbasis PAIKEM pada setiap
mata pelajaran sesuai dengan tingkat berpikir peserta didik.
|
No.
|
Materi Diklat
|
Alokasi
|
|
1.
|
Pembelajaran Berbasis CTL
|
4 jam
|
|
2.
|
Pembelajaran
Terpadu (IPA Terpadu, IPS Terpadu)
|
4
jam
|
|
3.
|
Pembelajaran
Tematik
|
4
jam
|
1.
Perkenalan
2.
Pejelasan tentang dimensi kompetensi,
indikator, alokasi waktu dan skenario pendidikan dan pelatihan strategi
pembelajaran.
3.
Pre-test
4.
Eksplorasi pemahaman peserta berkenaan
dengan strategi pembelajaran, melalui pendekatan andragogi.
5.
Penyampaian
Materi Diklat:
a.
Menggunakan
pendekatan andragogi, yaitu lebih mengutamakan pe-ngungkapan kembali pengalaman peserta pelatihan, menganalisis, me-nyimpulkan, dan mengeneralisasi dalam suasana
diklat yang aktif, ino-vatif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan
bermakna. Peranan pelatih lebih sebagai fasilitator.
b. Diskusi tentang
indikator keberhasilan pelatihan
strategi pembelajaran.
c.
Praktik
pengembangan strategi pembelajaran.
6.
Post
test.
7. Refleksi bersama antara peserta
dengan pelatih mengenai jalannya pelatihan.
8.
Penutup
PEMBELAJARAN
PAIKEM
Para ahli pendidikan berpendapat bahwa proses
pembelajaran di sekolah sampai saat ini cenderung berpusat kepada guru. Tugas guru
adalah menyampaikan materi-materi dan siswa diberi tanggung jawab untuk menghafal
semua pengetahuan. Memang pembelajaran yang berorientasi target penguasaan
materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi
gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang.
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang
mereka pelajari bukan mengetahuinya, oleh karena itu para pendidik telah
berjuang dengan segala cara dengan mencoba untuk membuat apa yang dipelajari
siswa disekolah agar dapat dipergunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Salah satu prinsip paling penting dari psikologi
pendidikan adalah guru tidak boleh semata-mata memberikan pengetahuan kepada
siswa. Siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat
membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi
sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan ide-ide, dan
dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan sendiri ide-ide, dan
mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri
dalam belajar. Guru dapat memberikan kepada siswa tangga yang dapat membantu
mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, tetapi harus di upayakan
sendiri siswa yang memanjat tangga itu.
Tingkat pemahaman siswa menurut model Gagne (1985) dapat
dikelompokan menjadi delapan tipe belajar, yaitu: (1) belajar isyarat, (2)
stimulus-respon, (3) rangkaian gerak, (4) rangkaian verbal, (5) membedakan, (6)
pembentukan konsep, (7) pembentukan aturan dan (8) pemecahan masalah (problem
solving).
Di lihat dari urutan belajar, belajar pemecahan
masalah adalah tipe belajar paling tinggi karena lebih kompleks, Dalam tipe
belajar pemecahan masalah, siswa berusaha menyeleksi dan menggunakan aturan-aturan
yang telah dipelajari terdahulu untuk membuat formulasi pemecahan masalah.
Lebih jauh Gagne (1985) mengemukakan bahwa kata-kata seperti penemuan (discovery)
dan kreatifitas (creativity) kadang-kadang diasosiasikan sebagaii
pemecahan masalah.
Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual
Teaching and Learning /CTL), Pembelajaran Pembelajaran Terpadu ,
Pembelajaran Inkuiri dengan menggunakan metode pembelajaran berbuat seperti:
kerja kelompok, eksperimen, pengamatan, penelitian sederhana, pemecahan masalah,
dan pembelajaran praktik dengan dikombinasikan dengan metode ekspositori
seperti ceramah, tanya jawab dan demonstrasi adalah pendekatan pembelajaran
yang karakteristiknya memenuhi harapan itu. Pendekatan atau model-model
pembelajaran tersebut menjadi tumpuan
harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya menghidupkan kelas
secara optimal. Kelas yang hidup diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang
terjadi di luar sekolah yang demikian cepat.
Setiap pendekatan memiliki ciri-ciri dasar atau
karakteristik sendiri. Karakteristik ini berhubungan dengan apa yang menjadi
fokus dan mendapat tekanan dalam pembelajaran. Ada pendekatan pembelajaran yang
berfokus pada siswa yang meliputi perkembangan, kemampuan berpikir, aktivitas,
pengalaman siswa. Pendekatan pembelajaran berfokus pada guru yang meliputi
fungsi, peran, dan aktivitas guru. Pendekatan pembelajaran berfokus pada
masalah meliputi masalah personal, sosial, lingkungan, atau pendekatan
pembelajaran yang berfokus pada teknologi, sistem instruksional, sistem informasi,
media, sumber belajar, dll.
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada
pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh
karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran tergantung
pada pendekatannya. Hal ini sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007
tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyatakan
bahwa dalam kegiatan inti pembelajaran merupakan proses untuk mencapai
Kompetensi Dasar (KD) yang harus dilakukan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, krativitas, dan kemadirian
sesuai denganbakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.
Kegiatan pembelajaran ini dilakukan secara sistematis dan
sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
1.
Belajar dan Pembelajaran
Belajar dan pembelajaran
merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar
merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan
lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara
sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola
tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan
reaksi dan sikap secara mental dan fisik.
Tingkah laku yang berubah
sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup
pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki
karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar
bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat
positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek
perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan.
Keberhasilan belajar peserta
didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu
kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga
terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal,
yaitu: kecerdasan, bakat (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi,
kondisi fisik, dan mental.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar